Hidup dalam sila,
melihat dengan metta,
mendengar dengan karuna,
berucap dalam sacca,
bersikap dalam upekkha,
di dunia yang serba fana.
Di mataku, Ia begitu istimewa
ku harap aku seistimewa diri-Nya
Bawalah aku ke kota tanpa angin di seberang waktu
Di mana tiada api dan bara membakar kulitku
Bawalah aku ke kota tanpa angin di seberang waktu
Di mana tiada air dan salju membasahi tanganku
Bawalah aku ke kota tanpa angin di seberang waktu
Di mana tiada tanah dan debu mengotori wajahku
Bawalah aku ke kota tanpa angin di seberang waktu
Di mana tiada kayu dan batu melukai kakiku
Aku seorang manussa
yang berselimut dosa, lobha dan moha
yang terbakar dalam kebencian
yang tenggelam dalam keserakahan
yang tersesat dalam ketidaktahuan
Aku seorang manussa
yang memelihara api dalam citta
yang membakar diri dalam dendam dan murka
membakar hingga nafas tak tersisa
Untuk sahabatku di mana pun berada
Untuk sahabatku yang berjalan seiringku
Dengan diri berselimut tanha dan moha
Lihatlah Sang Jalan yang berada di depanmu
Terang bersinar tak bercela
Jalan akhiri semua moha
Laras, bebas, lepas, damai
Menuju yang terhenti